Akhir-akhir ini anak-anak muda bali suka sekali keluar malam-malam, bukan untuk melakukan hal negatif tapi untuk ikut menyaksikan taksu bali yang disebut pementasan calonarang, calonarang akan dianggap seru apabila terdapat watangan (mayat) sebagai pelengkap di pertunjukkan tersebut. Bangga sekali rasanya karena saya hindu, dan kawan-kawan hindu lainnya mampu menjaga kesenian dan budaya bali.
Sebelumnya, saya sangat benar-benar bangga menjadi anak muda bali karena hidup di bali tak tiada arti, selalu ada hari suci, ada banyak budaya, bahkan ketika dunia semakin cepat, bali berani berhenti 1 hari untuk melaksanakan nyepi, seperti lirik lagu navicula. Saya sendiri adalah seorang yang mengagumi tradisi dan budaya bali, salah satu showreal saya adalah belajar megambel, menyaksikan calonarang, belajar ilmu agama, dll. Dan bersyukur sekali saya dapat meninstall aplikasi "Tri Sandya" di playstore yang memudahkan serta mengingatkan kita untuk trisandya, bukan hanya itu disana juga ada doa-doa yang perlu kita ucapkan sehari-hari sebelum memulai suatu kegiatan. Aplikasi tersebut dibuat oleh Arjuna Digital kita untuk membantu mengingatkan kita sebagai umat beragama hindu, jasa tersebut membuat ia menjadi Hindu Keren di mata publik dan tuhan.
Leak, adalah sebutan yang menarik di telinga seluruh orang khususnya anak muda bali, bukan hanya kepo dengan apa itu leak namun juga melestarikan dengan cara menjaga taksu atau belajar ilmu tersebut, namun karena stigma masyarakat dan kekeliruannya leak diartikan sebagai ilmu yang negatif saja, padahal ilmu ini dapat membantu kita sebagai pelindung diri serta mengobati orang secara non medis. Kemarin saya sempat ikut acara Seminar Calonarang & Kerauhan, disana disebutkan bila Leak dan Liak itu beda. Perbedaanya adalah Leak artinya Lengga Aksara yang berarti Salah menggunakan atau mempraktekkan suatu aksara (ajaran), sedangkan Liak adalah Linggih teken aksara yang artinya taat dengan aturan aksara, dan aksara (ajaran) tersebut yang dipelajari digunakan dengan baik & menolong orang.
Selain itu, yang saya tangkap dari seminar tersebut yang didatangi oleh berbagai tokoh agama seperti PHDI, Pandita-pandita, jero mangku, balian-balian, dll saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya bila kita menonton calonarang dengan seksama, bukan hanya menonton bangke-bangkeannya saja (mayat-mayatan) maka kita dapat memetik makna/mengambil pesan disana. Karena asal muasal Calonarang adalah dari cerita Calon Arang, berikut kisah singkatnya :
Diceritakan bahwa Calon Arang adalah seorang janda penguasa ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Ia mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.
Raja Erlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang muridnya bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.
Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.
Berikut adalah dharmawecana dari pakar calonarang yang biasanya sebagai pengayah watangan, beliau bernama Komang Gases.
Nah, calonarang bukan hanya sebagai pertunjukkan seni tapi juga kayun ratu sesuhunan mesolah untuk memperlihatkan taksu, bukan sekedar pertunjukkan saja. Calonarang ini awalnya adalah sastra (teks yang mengandung intruksi atau pedoman), yang dikemas menjadi satwa (cerita agar mudah diceritkan/dipertunjukkan), harapannya kita akan mendapatkan tattwa (ilmu yang mempelajari kebenaran). Filosopi hindu dapat kita pelajari juga melalui pertunjukkan calonarang, apapun yang rumit sudah diatur sesederhana mungkin agar kita dapat mudah memahaminya, itulah hindu hebat, apapun selalu ada jalan yang benar saat arus globalisasi semakin keras di zaman kaliyuga ini, bisa kita sebut rwa bhineda.
Kemarin, pecinta calonarang dihebohkan oleh watangan metanem (mayat dikubur), watangan metunjel (mayat di bakar), berikut adalah videonya :
(mayat dikubur)
(mayat dibakar)
Semoga arjuna-arjuna digital dapat mengshare informasi yang bermanfaat agar masyarakat tidak keliru di hal-hal yang harusnya kita jaga, dan kita lestarikan.
Sebelumnya, saya sangat benar-benar bangga menjadi anak muda bali karena hidup di bali tak tiada arti, selalu ada hari suci, ada banyak budaya, bahkan ketika dunia semakin cepat, bali berani berhenti 1 hari untuk melaksanakan nyepi, seperti lirik lagu navicula. Saya sendiri adalah seorang yang mengagumi tradisi dan budaya bali, salah satu showreal saya adalah belajar megambel, menyaksikan calonarang, belajar ilmu agama, dll. Dan bersyukur sekali saya dapat meninstall aplikasi "Tri Sandya" di playstore yang memudahkan serta mengingatkan kita untuk trisandya, bukan hanya itu disana juga ada doa-doa yang perlu kita ucapkan sehari-hari sebelum memulai suatu kegiatan. Aplikasi tersebut dibuat oleh Arjuna Digital kita untuk membantu mengingatkan kita sebagai umat beragama hindu, jasa tersebut membuat ia menjadi Hindu Keren di mata publik dan tuhan.
Leak, adalah sebutan yang menarik di telinga seluruh orang khususnya anak muda bali, bukan hanya kepo dengan apa itu leak namun juga melestarikan dengan cara menjaga taksu atau belajar ilmu tersebut, namun karena stigma masyarakat dan kekeliruannya leak diartikan sebagai ilmu yang negatif saja, padahal ilmu ini dapat membantu kita sebagai pelindung diri serta mengobati orang secara non medis. Kemarin saya sempat ikut acara Seminar Calonarang & Kerauhan, disana disebutkan bila Leak dan Liak itu beda. Perbedaanya adalah Leak artinya Lengga Aksara yang berarti Salah menggunakan atau mempraktekkan suatu aksara (ajaran), sedangkan Liak adalah Linggih teken aksara yang artinya taat dengan aturan aksara, dan aksara (ajaran) tersebut yang dipelajari digunakan dengan baik & menolong orang.
![]() |
| Saya suka melihat rangda (bagian calonarang), makanya di video arjuna digital saya shooting menambahkan rangda di dalamnya, di produksi video ini saya sebagai produser sekaligus sutradara. |
Selain itu, yang saya tangkap dari seminar tersebut yang didatangi oleh berbagai tokoh agama seperti PHDI, Pandita-pandita, jero mangku, balian-balian, dll saya mendapatkan informasi bahwa sebenarnya bila kita menonton calonarang dengan seksama, bukan hanya menonton bangke-bangkeannya saja (mayat-mayatan) maka kita dapat memetik makna/mengambil pesan disana. Karena asal muasal Calonarang adalah dari cerita Calon Arang, berikut kisah singkatnya :
Diceritakan bahwa Calon Arang adalah seorang janda penguasa ilmu hitam yang sering merusak hasil panen para petani dan menyebabkan datangnya penyakit. Ia mempunyai seorang puteri bernama Ratna Manggali, yang meskipun cantik, tidak dapat mendapatkan seorang suami karena orang-orang takut pada ibunya. Karena kesulitan yang dihadapi puterinya, Calon Arang marah dan ia pun berniat membalas dendam dengan menculik seorang gadis muda. Gadis tersebut ia bawa ke sebuah kuil untuk dikorbankan kepada Dewi Durga. Hari berikutnya, banjir besar melanda desa tersebut dan banyak orang meninggal dunia. Penyakit pun muncul.
Raja Erlangga yang mengetahui hal tersebut kemudian meminta bantuan penasehatnya, Empu Baradah untuk mengatasi masalah ini. Empu Baradah lalu mengirimkan seorang muridnya bernama Empu Bahula untuk dinikahkan kepada Ratna. Keduanya menikah besar-besaran dengan pesta yang berlangsung tujuh hari tujuh malam, dan keadaan pun kembali normal.
Calon Arang mempunyai sebuah buku yang berisi ilmu-ilmu sihir. Pada suatu hari, buku ini berhasil ditemukan oleh Bahula yang menyerahkannya kepada Empu Baradah. Saat Calon Arang mengetahui bahwa bukunya telah dicuri, ia menjadi marah dan memutuskan untuk melawan Empu Baradah. Tanpa bantuan Dewi Durga, Calon Arang pun kalah. Sejak ia dikalahkan, desa tersebut pun aman dari ancaman ilmu hitam Calon Arang.
Berikut adalah dharmawecana dari pakar calonarang yang biasanya sebagai pengayah watangan, beliau bernama Komang Gases.
Nah, calonarang bukan hanya sebagai pertunjukkan seni tapi juga kayun ratu sesuhunan mesolah untuk memperlihatkan taksu, bukan sekedar pertunjukkan saja. Calonarang ini awalnya adalah sastra (teks yang mengandung intruksi atau pedoman), yang dikemas menjadi satwa (cerita agar mudah diceritkan/dipertunjukkan), harapannya kita akan mendapatkan tattwa (ilmu yang mempelajari kebenaran). Filosopi hindu dapat kita pelajari juga melalui pertunjukkan calonarang, apapun yang rumit sudah diatur sesederhana mungkin agar kita dapat mudah memahaminya, itulah hindu hebat, apapun selalu ada jalan yang benar saat arus globalisasi semakin keras di zaman kaliyuga ini, bisa kita sebut rwa bhineda.
Kemarin, pecinta calonarang dihebohkan oleh watangan metanem (mayat dikubur), watangan metunjel (mayat di bakar), berikut adalah videonya :
(mayat dikubur)
(mayat dibakar)
Semoga arjuna-arjuna digital dapat mengshare informasi yang bermanfaat agar masyarakat tidak keliru di hal-hal yang harusnya kita jaga, dan kita lestarikan.


Komentar
Posting Komentar